Keutamaan Al-Quran

Semoga dengan tahu keutamaan Al-Quran, bisa menjadi pemacu kita untuk makin bersemangat lagi berinteraksi dengan Al-Quran. Berikut beberapa poin saya kutip dari buku karya Ustadz Adi Hidayat yang berjudul Metode At Taisir 30 Hari Hafal Al-Quran, beberapa keutamaan Al-Quran antara lain:

  1. Al-Quran disebut sebagai dzikir yang dijamin otentisitas dan kemudahan dalam menghafalkannya (lihat misalnya, Qs. 15 ayat 9 dan  Qs. 54 ayat 17, 22, 32, dan 40). Adapun kitab lainnya disebut sebagai dzikir namun tidak dijamin penjagaan dan kemudahan menghafalnya
  2. Isi Al-Quran difirmankan secara akurat dan jelas, diterangkan dalam bahasa Arab terpilih (lihat misalnya, Qs. 41 dan 3)
  3. Mendengar bacaannya dapat menggetarkan dan menguatkan iman (lihat misalnya, Qs. 8 ayat 2)
  4. Para jin bahkan teramat takjub dan mengakui peran serta petunjuk Al-Quran (lihat misalnya, Qs. 72 ayat 1-2)
  5. Ada keberkahan dalam tadabbur setiap ayatnya (lihat misalnya, Qs. 38 ayat 29)
  6. Turun di bulan mulia, pada malam termulia (lihat misalnya, Qs. 2 ayat 185 dan Qs. 44 ayat 3)
  7. Malam turunnya bernilai pahala lebih dari 1000 bulan (lihat misalnya, Qs. 97 ayat 3)
  8. Dimuliakan di Lauh Mahfudz (lihat misalnya, Qs. 43 ayat 4)
  9. Tidak disentuh kecuali oleh yang suci (lihat misalnya, Qs. 56 ayat 79)
  10. Menghadirkan pilihan untuk mengikutinya (lihat misalnya, Qs. 39 ayat 41)

Mencoba Membaca di Angkot

Pernah melihat orang membaca buku di angkutan umum? angkot?

Membaca buku di angkot
Membaca buku di angkot | via: wikihow

Saya pernah. Dan ingin menirunya. Pada saat naik angkot, waktu itu saya di belakang, jadi menghadap samping angkot, pemandangan bagian samping angkot. Ternyata dengan duduk di belakang angkot, susah sekali fokus membaca, karena goyang, goyang ke kiri dan ke kanan. Mungkin akan berbeda ceritanya jika ada tempat bersandar, hehehe.

Kemudian beberapa hari setelahnya, saya pun mencoba duduk di kursi depan angkot, di dekat sopir. Ternyata pada posisi ini jauh lebih nyaman membaca buku, jika tidak percaya silahkan dicoba. Dengan duduk di depan, Insyaallah tidak akan goyang ke kiri dan ke kanan, hohoho.

Membaca buku di angkot, lumayan mengisi waktu kosong, apalagi kalau sampai angkotnya “ngetem”, beuh! lama sekali menunggu. So, sembari menunggu, membaca buku pilihan yang tepat bukan?

Bacalah, Maka Kamu Pandai Menulis

Merasa ditampar dengan artikel yang di tuliskan pada kompas. Judul besarnya adalah “Bacalah, Maka Kamu Pandai Menulis”. Merasa disindir juga, karena selama ini hanya membaca beberapa buku. Harus menambah jumlah buku bacaan, malu karena rajin menulis tapi tidak pernah membaca.

Berikut adalah kutipan dari kompas edukasi:

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca.

Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun.

Jujur, dengan banyak membaca, banyak pula ide topik tulisan yang akan muncul. Menulis tanpa membaca, artinya mengarang-ngarang.

referensi:
http://edukasi.kompas.com………..

Denda lagi, denda lagi

Perpustakaan UPI

Pagi-pagi sudah denda di perpustakaan UPI karena telat mengembalikan buku. Kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi, melainkan sudah sering bagi Saya. Tapi, tidak pernah dendanya sebanyak ini, haddeeeh. Denda sebesar 11.500, berarti kalau dibagi 500, Saya telat 23 hari mengembalikan buku, karena telat satu hari dendanya Rp. 500/buku. Alhamdulillah Saya hanya meminjam satu buku, syukur. Coba kalau misalkan dua buku, dendanya dua kali lipat alias 23.000, atau 4 buku jadinya malah 46.000, wow!

Bagus sih diterapkannya denda kepada siapa saja yang telat mengembalikan buku, Saya setuju. Kasihan tuh kalau misalkan buku tidak dikembalikan, orang lain kan jadi tidak bisa meminjam. Ingat, buku yang ada di perpustakaan milik kita bersama, bukan milik pribadi.

Alasan Mengapa Lebih Baik Belajar dari Guru daripada Buku

Buku atau bacaan banyak juga macamnya, fiksi dan nonfiksi. Ada tentang bacaan ilmu pengetahuan, agama, dongeng, cerpen, kitab, majalah, dan masih banyak lagi. Dengan buku, kata orang Kita seakan membuka tabir dunia, maksudnya jendela dunia. Hohoho.

Mengapa demikian? Karena dengan membaca, tanpa harus pergi ke suatu daerah tertentu, Kita tahu bagaimana keadaan di sana, dimana saja spot tempat yang indah untuk dikunjungi, kuliner apa saja yang ada di tempat tersebut. Seakan karena buku, dunia ini, antar benua dengan benua terasa dekat.

image

ilustrasi: askiitians.com

Masih mau malas membaca buku? Sayang sekali, bagaimana mereka yang suka membaca buku dan menikmati pengetahuan indah di luar sana, sementara Anda duduk, termenung, dan berujung tidur tanpa membaca buku. Sungguh…..

Belajar dari buku, akan menerangi hidup Anda, karena dari buku yang berkaitan, Anda tidak akan salah langkah untuk mengarungi hidup ini. Buku ditulis berdasar pengalaman juga, betapa pentingnya pengalaman itu, dengan kata lain, pengalaman buruk seseorang yang ada di dalam buku,  menjadikan Anda terhindar dari itu, karena tahu akan konsekuensinya.

Kita bandingkan dengan belajar dari guru, bukan buku. Saya katakan belajar dari guru lebih penting dan akan lebih bermakna dari pada belajar dari buku. Alasannya adalah guru bisa membaca Kita, sementara buku tidak!. Kita ambil contoh, terdapat buku tajwid/tahsin. Belajar dari buku tahsin, dan menerapkan langsung apa yang sudah dipelajari, namun tahukah Anda? Kita membaca buku tahsin, namun buku tersebut tidak bisa membaca Anda. Jika Anda salah baca Al-Qur’an, Dia(buku) tidak bisa mengoreksi kesalahan Anda.

image

ilustrasi: wisegeek.com

Atau dengan contoh buku pengobatan, terdapat resep pengobatan demam tinggi. Bukankah kita hanya tahu resepnya saja? Bagaimana dengan tingkat demamnya? Atau alternatif pengobatan berdasar usia Kita? Kadar obat yang harus dikonsumsi?. Hanya dari dokter, semuanya akan menjadi jelas, karena langsung bertatapan dengan kita, dan bisa langsung “membaca” keadaan Kita. Tidak seperti buku, hanya memberikan pengetahuan, pengalaman, namun tidak bisa membaca keadaan Kita.

Bukan berarti buku tidak penting untuk dibaca, hanya saja dengan belajar dari guru, akan lebih penting lagi dan menjadikan semuanya lebih bermakna. Rajin-rajinlah berguru menuntut ilmu, dan membaca buku untuk pengetahuan Anda demi kehidupan yang lebih cerah.