Hanya Punya Dua Tangan

Tidak apa-apa ya cerita sedikit (baca curhat).

Padahal 90% postingan di blog ini isinya curhat semua, hihihi.

Dulu ketika menjadi mahasiswa tingkat satu (2 semester awal), sama sekali tidak ada kegiatan lain yang dilakukan selain kuliah. Jadi, setiap hari hanya ngurusin kuliah saja, kuliah-pulang—kuliah-pulang. Memang, nilai bagus, tapi setelah pulang kampung halaman, baru sadar, masak iya hanya itu saja yang saya lakukan di perantauan???.

Mulailah terpikir ingin mengerjakan banyak hal di perantauan. Di dalam kampus, Saya mengikuti tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), kalau di luar kampus saya ikut beberapa pendidikan, sudah 3 kali jadi santri. Kesannya memaksakan, iya memang dipaksakan.

Akhirnya, satu pun dari semua kegiatan itu tidak ada yang maksimal dikerjakan. Kita manusia apakah bisa maksimal dalam mengerjakan semua kegiatan dalam satu waktu? hm…sepertinya akan sulit.

Kita manusia hanya punya dua tangan, kreatif untuk melakukan semua hal itu bagus, tapi jangan lupa fokus. Kurangi aktivitas yang sekiranya tidak begitu penting.

Berkuda dan Memanah

Berkuda: belajar kreatif
Memanah: belajar fokus

Ada orang yang segala dikerjakan, dia bisa semua, namun pekerjaannya tidak beres-beres, ini ciri-ciri orang kreatif. Sebaliknya, ada orang fokus pada satu bidang, dia mengerjakan itu saja sehingga menjadi bidang keahliannya, namun hanya bisa pada satu bidang itu.

Berkuda dan memanah. Dengan berkuda, kita dilatih untuk kreatif. Kreatif dalam keseimbangan, mengendalikan kuda, dan tetap tenang, lebih-lebih jika sembari memegang anak panah, dibutuhkan kreativitas.

Hikmah Berkuda
Hikmah Berkuda | ilustrasi: superkidsindonesia.com

Sementara dengan memanah, kita dilatih untuk fokus. Jika tidak fokus, awas hati-hati biasanya nanti ada yang menjerit di seberang sana…menjerit kesakitan, hahahaha.

Andai kita memiliki dua kemampuan ini, kreatif dan fokus. Hayu berusaha menjadi pribadi yang kreatif dan fokus dengan mengikuti olahraga sunnah Rasul diantaranya berkuda dan memanah.

Cara Belajar Irama Baca Al-Quran (5)

Cara Belajar Irama Baca Al-Qur'an
Cara Belajar Irama Baca Al-Quran

Banyak cara tapi kalau tidak dipraktikkan ya percuma. Artikel di sini hanyalah artikel, hanyalah tips dan trik, hanyalah tulisan, untuk memudahkan pembaca belajar berdasar dari pengalaman. Untuk cepat bisa, tentu karena ikhtiar pembaca.

Sesi cara belajar irama baca Al-Quran 5 adalah tentang fokus. Jangan semua mp3 murottal qari dipelajari. Ini yang membuat terkadang irama kita campur aduk. Fokuslah pada satu irama saja, misalkan jika Anda penggemar Mishary Rashid Alafasy, cukuplah hanya murottal/rekamannya saja yang ada pada smartphone Anda. Menyimpan banyak mp3 murottal hanya akan mempersulit Anda belajar irama membaca Al-Quran, di samping sulit, seperti yang saya bilang sebelumnya, bisa membuat irama kita campur aduk.

Jika Anda menyukai yang campur aduk, silahkan, beda orang beda selera, hahhay!

Ada yang Tidak Terpisahkan, Namanya Fokus dan Istiqomah

Tulisan ini semata-mata terinspirasi ketika mengikuti salah satu kajian di Bandung. Bukan karena gak ada kerjaan ya, tapi hanya karena iseng-iseng aja pengen denger pengajian, hahaha. Bercanda ah!

image

ilustrasi: anotherstep.ruzuku.com

Dikatakan bahwa kita tidak berprestasi itu karena tidak fokus, atau mungkin salah fokus. Ayo ngaku saja? siapa yang seperti itu? misalkan ketika sedang fokus belajar, kemudian saat itulah ada pujaan hati yang menelfon, dan berlangsung lama. Bagaimana bisa efektif menyerap materi kalau pikiran bercabang-cabang begitu. Atau mungkin sedang menghafal Al-Qur’an, tapi “sambil” main HP, yaela, yang seperti ini tidak bakal bisa hafal, kalaupun hafal, dengan tidak “sambil” “sambil” “sambil” alias fokus, pasti hasil yang didapat lebih optimal.

Dan yang terpenting adalah istiqomah atau kontinu, disebut juga berkelanjutan. Ketika sudah fokus, namun tidak istiqomah dalam melakukan segala hal, ya hanya sampai di situ. Misalkan menghafal Al-Qur’an walaupun fokus namun hafalan tidak diulang-ulang setiap harinya, hafalan bisa saja lenyap seketika. So, fokus dan istiqomah tidak bisa dipisahkan, kurang lebih seperti itu.