Orang Pintar Adalah Orang yang Merasa Bodoh

Ada yang menarik dari apa yang dikatakan Buya Hamka, kurang lebih seperti ini:

“Orang pintar adalah orang yang merasa bodoh, sehingga tidak berhenti membaca dan belajar. Orang yang merasa pintar karena tidak membaca, dia akan bodoh kembali.”

Jadi, teruslah merasa bodoh, agar kita tidak bosan-bosannya belajar. Merasa pintar itu seperti membatasi diri sendiri, membatasi diri untuk berhenti menambah ilmu. Seharusnya kita seperti gelas kosong yang siap menerima masukan ilmu dari siapa saja. Dengan merasa bodoh, kita jauh akan lebih cepat menerima ilmu ketimbang jika kita sudah merasa diri pintar.

Padahal, sesungguhnya kita manusia memang asli bodoh, hanya sedikit saja ilmu yang diberikan Allah Swt, sedikit sekali. Butuh berapa lama mempelajari semua bidang ilmu di dunia ini? waaah, tidak terbayangkan. Padahal masih ilmu seputar dunia, belum alam semesta.

Hari ini Dapat Ilmu Apa?

Tidur kalau 8 jam sehari, berarti ada luang waktu 16 jam untuk belajar. Hari ini kalau kita renungi, kita dapat ilmu apa saja ya? atau jangan-jangan malah tidak ada. Hm, sedih kalau sampai sedikit pun tidak ada ilmu yang nempel di kepala ini.

Tidak harus ilmu didapat dari buku pelajaran bukan? bisa dari mendengar atau bahkan melihat perbuatan baik orang lain, seperti melihat orang menyimpan bungkus permen di kantongnya kemudian setelah melihat tempat sampah barulah Ia membuang bungkus permen tersebut. Atau kita melihat seorang remaja di pinggir jalan menyeberangkan orang yang buta, betapa perbuatannya sungguh mulia sekali.

Kita juga bisa melihat cecak, yang masih hidup. Hahh? masih hidup? hehehe, iya, masih hidup sampai sekarang. Bayangkan saja perjuangan cecak mencari makan, cecak berjuang keras untuk menangkap nyamuk yang bisa “terbang”, Subhanallah, betapa Allah mengatur setiap rezeki makhluknya. Banyak hal bisa menjadi ilmu bagi siapa saja yang berusaha mencarinya.

Yuk! Tambah SKS di Majelis Ilmu

Bagaimana pun ilmu itu amatlah luas sekali. Tidak lah mungkin kita insan yang banyak sekali memiliki keterbatasan ini mampu memahami semuanya. Sebagai contoh ilmu komputer. Di dalamnya begitu luas sekali bidang ilmu yang mesti dipelajari seperti pemrograman, basis data, sistem operasi, jaringan komputer, sistem digital, dan masih banyak lagi.

ilustrasi: republika.co.id

Sekarang kita buka deh satu-satu cabang atau materinya lagi. Kita ambil pemrograman saja, Subhanallah ada berbagai macam bahasa pemrograman di dunia ini, Java, C, C++, PHP, Visual Basic, C#, Objective C, dan teman-temannya. Belum lagi basis data, sistem operasi, jaringan komputer. Beuh! puyeng!

Biar gak puyeng, yuk tambah SKS di Majelis Ilmu. Bukan berarti dengan menambah sks malah semakin puyeng. TIDAK! ini sepintas seperti terapi yang Insyaallah akan membuat pikiranmu semakin terbuka, lebih fresh lagi dalam berpikir, dengan harapan munculnya ide-ide berilian untuk mengembangkan ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah. Layaknya baterai yang selalu di “charge” untuk energi menjalankan aplikasi. Kita pun juga seperti itu, memberikan asupan ilmu agama agar ilmu yang kita dapatkan bisa menjadi penerang dalam menjalankan aktifitas sehari-hari.

Dengan mengikuti majelis ilmu juga termasuk mujahid di jalan Allah, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu syar’i , maka ia berjihad di jalan Allah hingga ia kembali.“ (HR. At-Tirmidzi).