Berkuda dan Memanah

Berkuda: belajar kreatif
Memanah: belajar fokus

Ada orang yang segala dikerjakan, dia bisa semua, namun pekerjaannya tidak beres-beres, ini ciri-ciri orang kreatif. Sebaliknya, ada orang fokus pada satu bidang, dia mengerjakan itu saja sehingga menjadi bidang keahliannya, namun hanya bisa pada satu bidang itu.

Berkuda dan memanah. Dengan berkuda, kita dilatih untuk kreatif. Kreatif dalam keseimbangan, mengendalikan kuda, dan tetap tenang, lebih-lebih jika sembari memegang anak panah, dibutuhkan kreativitas.

Hikmah Berkuda
Hikmah Berkuda | ilustrasi: superkidsindonesia.com

Sementara dengan memanah, kita dilatih untuk fokus. Jika tidak fokus, awas hati-hati biasanya nanti ada yang menjerit di seberang sana…menjerit kesakitan, hahahaha.

Andai kita memiliki dua kemampuan ini, kreatif dan fokus. Hayu berusaha menjadi pribadi yang kreatif dan fokus dengan mengikuti olahraga sunnah Rasul diantaranya berkuda dan memanah.

Saya dan Azka, si Kuda

Tepatnya kemarin, hari Minggu, saya berkesempatan belajar menunggang kuda. Teorinya gampang, tapi praktiknya susah-susah gampang, he. Penasaran?

Tepatnya di eco pesantren Daarut Tauhiid, yaitu lebih spesifik di Daarus Sunnah, Daarut Tauhiid, Bandung. Waktu itu pagi, para santri satu per satu mencoba menunggang kuda. Teorinya sedikit, jika ingin maju tendang perut kuda, mau ke kiri tarik kendali ke kiri, ke kanan tarik ke kanan, jika ingin berhenti tarik kendali, dan terakhir jika ingin mundur tendang perut kuda sembari tarik kendali. Oia, nendang perut kudanya jangan keras-keras ya, hahahaha.

Di Daarut Tauhiid, saat ini ada 32 ekor kuda. Silahkan berkunjung kesini jika ingin mencoba, tempatnya sangat bagus, nyaman, dan juga para pelatihnya dijamin cool, hohoho.

Akhirnya tibalah giliran saya menunggang kuda, nama kudanya Azka/Aska. Kuda ini sangat liar, tidak seperti kuda-kuda lainnya. Mengapa? setiap santri yang mendekat padanya, pasti kuda ini menghindar, hm…nasib, nasib. Ternyata benar, ketika saya mendekati dan mulai mengelus-elus Azka, Dia menghindar, huaaaaaa!!! kuda ini menyebalkan sekali.

Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya bisa naik juga (atas usaha “keras” pelatih menenangkan Azka, si kuda). Pertama, ketika suasana hati deg-degan, ragu-ragu, gelisah, kuda ini susah sekali dikendalikan, serius. Saya mencoba menenangkan diri, Alhamdulillah sedikit demi sedikit si Kuda Azka ini bisa dikendalikan, hihihi, saya senyum-senyum sendiri kala itu.

Subhanallah, kuda bisa tahu suasana hati seseorang…

Hari berlalu, sekarang saya sedang kangen dengannya, Azka, si kuda liar nan ngangenin, semoga baik-baik saja di sana, jangan nakal ya, apalagi sampai menendang pengendara, hihihi.

40 Rakaat

Kajian yang sungguh luar biasa, Alhamdulillah. Beliau dalam kajiannya kurang lebih mengatakan: sekurang-kurangnya ayo kita usahakan shalat 40 rakaat setiap hari.

40 rakaat?

Yaps! 40 rakaat.

17 rakaat shalat wajib, 11 rakaat qiyamul lail, 2 rakaat dhuha, dan 10 rakaat rawatib. Jadi, total (17+11+2+10) ada 40 rakaat.

Untuk shalat sunnah rawatib dengan rincian 2 rakaat sebelum subuh, 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib, dan 2 rakaat setelah isya. Ini merupakan shalat sunnah rawatib muakad.

Begitulah sahabat-sahabatku sekalian. Tentu tidak harus 40 rakaat, misalkan shalat dhuha ditambah rakaatnya, atau bisa ditambah dengan shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnah lainnya. 40 rakaat sebagai pengingat kita saja, karena memang mudah diingat, 40.

Ketika Pulang Tidak Ada Nasi

Satu kejadian yang sedikit menyebalkan, menyayat hati.

Adalah waktu sedang lapar-laparnya, baru pulang kuliah, kemudian membeli lauk, dan setelah sampai di kosan, ternyata tidak ada nasi, belum menanak nasi.

Lauknya mau diapain?
1. Ingin dimakan saja kan kurang kenyang
2. Ingin pergi ke warteg untuk makan, sudah terlanjur karena sudah membeli lauk
3. Lauknya mau dikembalikan ke warteg kan mustahil, malu, hahaha
4. Mau dibuang lauknya, bodoh, he

Ah, kalau saya lebih memilih membeli roti, kemudian menanak/memasak nasi. Sembari menunggu nasi sudah siap dimakan, sambil memakan roti, agar tidak kelaparan, he. Rotinya tidak banyak, hanya untuk menunda lapar saja.

Bagi orang yang sabar atau sudah terbiasa puasa sunnah, saya rasa tidak keberatan menunggu 30 menit sampai nasinya matang. Hm, sepertinya harus belajar dan berusaha istiqomah untuk puasa sunnah.

Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram

I love Islam

Yang wajib ditingkatkan mutunya,
Yang Sunnah diperbanyak jumlahnya,
Yang Mubah dikurangi,
Yang Makruh diberhentikan, dan
Yang Haram ditinggalkan.

Yang wajib seperti shalat, tingkatkan mutunya. Jangan sampai ketika shalat malah memikirkan sesuatu yang aneh-aneh, usahakan khusuk. Yang sunnah diperbanyak jumlahnya, misalkan shalat sunnah dhuha, biasanya 2 rakaat ditambah menjadi 8 rakaat.

Yang mubah dikurangi, seperti pakaian. Janganlah kita memiliki baju sampai 5 lemari “full”. Dikurangi saja, cukup 7 baju kan untuk satu minggu?. Kemudian contoh mubah yang lain adalah makan, tidak usah lebih sampai 3x makan dalam sehari, kurangi.

Yang makruh diberhentikan, contohnya adalah makan jengkol, makan bawang mentah, atau merokok. Stop merokok!, makruh bahkan juga berarti dibenci. Kemudian yang haram ditinggalkan, contohnya mendekati zina. Tinggalkan semua hal yang bisa menyeret, mengundang kita mendekati zina, seperti pacaran sebelum nikah.

#KH-Tengku-Zulkarnain