Profesi yang Terancam Digantikan oleh Teknologi

Tengah malam begini baca-baca artikel, ada yang menarik di kaskus, tentang profesi di Indonesia yang terancam digantikan oleh teknologi. Profesi apa saja itu?

Profesi itu diantaranya,

  1. Petugas Pengisi Bahan Bakar di SPBU
  2. Kasir
  3. Buruh
  4. Tukang cuci mobil
  5. Pelayan
  6. Petugas loket
  7. Asisten rumah tangga
  8. Supir
  9. Pemandu Wisata

Yaps! itulah beberapa list profesi yang dianggap terancam digantikan oleh teknologi. Kita tidak tahu itu kapan, dan apakah benar-benar akan terjadi. Bukan untuk menakut-nakuti, hanya saja ini sebagai motivasi kita untuk selalu berpikir kreatif agar tidak sampai digantikan oleh teknologi.

Aku Adalah Orang Sibuk!

Kemana-mana Smartphone ini selalu ku bawa…, pagi, siang, malam, bahkan sebelum tidur. Bangun pagi, bukannya membasuh muka atau menggosok gigi, melainkan mengecek Smartphone dulu, melihat status dari teman maya, bukan hitungan menit, melainkan terkadang berjam-jam, karena aku adalah orang sibuk.

Tiba-tiba mama memanggil dari dapur,
“Nak…bantu mama bersihin piring”.
Aku menjawab, “Sebentar dulu Ma”, sembari mengupdate status BBM dan membalas beberapa chattingan, lama sekali mamaku menunggu.

Tiba-tiba koneksi menjadi lelet, Aku kesal karena ada beberapa foto yang belum sempat Aku upload di Instagram. Akhirnya pada siang hari Aku putuskan pergi ke kampus untuk menguploadnya. Akhirnya berhasil, kemudian aku terus memantau “notifikasi” yang muncul dari depan layar Smartphone, 1 like, 2 like, 3 like, dan seterusnya. 

Astaga! Aku lupa! Aku belum mandi. Akhirnya pergi ke kamar mandi, dan tak lupa membawa si ponsel pintar, Smartphone. Layarnya menjadi licin, karena tanganku basah. Apapun yang terjadi, Smartphone ini harus berada didekatku, aku merasa tidak nyaman jika jauh darinya, Smartphone.

Malam telah tiba, mengantuk. Aku matikan lampu, gelap. Lampu sudah mati, namun Smartphone ini masih menyala, lama sekali aku memainkannya, games ini seru sekali. Melihat layar Smartphone dalam kegelapan membuat mataku sakit, tapi tidak mengapa, ini sudah biasa. Hari-hariku sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk orang lain.

Aku adalah orang sibuk. Dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah, Aku pun menikmatinya, menikmati sedang diperalat teknologi.

Apa Kabar?

“Hai, apa kabar?”

Sekarang menanyakan kabar sudah rada-rada berat. Karena sebelum ditanya, kita sudah tahu kabar si Dia, tahu dari mana? jejaring sosial. Menanyakan kabar secara langsung lambat laun malah memudar. Saya pikir tidak ada salahnya menanyakan kabar si Dia secara langsung, walaupun kita sudah tahu keadaannya.

Sekarang orang lebih memilih untuk membuka aplikasi jejaring sosial/media sosial kemudian menutup pintu kamarnya, daripada pergi bermain ke rumah teman. Tidak ada yang salah, tapi jangan sampai teknologi ini membuat kita bisu menanyakan kabar kerabat secara langsung.

Beginilah sekarang, terima tidak terima, harus terima.

Perlu nggak sih Kuliah Jurusan IT (Information Technology) ?

Sebelumnya, tebakan kalian yang mana? Perlu atau nggak? He.
Pertama, yang jawab perlu barangkali karena Anda orang yang suka IT atau mungkin karena sekarang lagi kuliah jurusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Sistem Informasi, dkk.
Oleh sebab itu, Anda bilang kuliah jurusan IT itu perlu. Haahhahaha.
Kedua, yang bilang nggak perlu, bisa jadi Anda berpatokan kepada orang-orang yang sukses dalam bidang IT (Information Technology) tanpa kuliah atau drop out dari kampusnya seperti Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dan Bill Gates.

image

ilustrasi: http://www.pjitm.com/

Kisah mereka memang sangat luar biasa.
tapi tahukah Anda? ada berapa banyak yang sukses seperti mereka? (di drop out, atau mungkin nggak kuliah) 🙂
Bisa di hitung paling ya…he, coba Anda bandingkan dengan mereka yang kuliah dan sukses di bidang Teknologi Informasi, banyak! Kesimpulannya adalah mereka yang sukses dengan kuliah di jurusan IT lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang di drop out, dan tidak kuliah.

Alasan lain adalah, jika mereka sukses tanpa kuliah atau di drop out dari perguruan tinggi, mereka lebih membutuhkan tenaga/usaha yang lebih ekstra untuk bisa meraih kesuksesan itu. Masih mau mengambil resiko dengan di drop out dari kampus?

Ada sangat banyak Perguruan Tinggi di Indonesia yang menyediakan jurusan-jurusan IT. Memang dengan tidak kuliah IT, kemampuan pemrograman dan bidang IT yang lainnya bisa Anda pelajari dengan otodidak. Cukup istiqomah belajar sekitar 2 tahun saja, Anda bisa mahir. Namun, itu tidak cukup. Anda harus lebih ekstra lagi untuk melakukan terobosan baru atau temuan baru tentang IT, dan pastinya temuan Anda harus lebih dibandingkan mereka yang kuliah di jurusan IT.

Dengan kuliah juga ada yang namanya relasi, hubungan antar alumni. Jika Anda mengenal dekat beberapa alumni yang katakanlah sukses dibidangnya, Anda bisa lebih leluasa bertanya seputar prospek pekerjaan, lowongan pekerjaan, informasi perusahaan, dll.