Bayar Hutang "Nyeleneh"

Ntah, itu hari apa, saya tidak membawa uang. Untuk kembali ke kosan, cukup jauh, sekitar 15 menit lamanya, jadi saya putuskan untuk berhutang. Berhutang disalah satu sahabat, berhutang 2000 rupiah, untuk membeli roti, karena saat itu sedang lapar-laparnya.

Jarang sekali bertemu dengan sahabat ini, untuk membayar hutang.

Akhirnya, ketika bertemu, tanpa perlu berpikir lama, saya langsung menyodorkan uang 5000-an kepadanya (hutang saya 2000). “Nih 5000, kembalian saya 3000”.  Ternyata dia tidak punya kembalian, uang yang ia miliki bernominal besar semua, tidak ada pecahan 2000-an atau 1000-an.

Akhirnya saya mengatakan, “ya sudah! sekarang berarti tinggal kamu yang berhutang 3000, hahahahahaha.”

Dibalik Tidak Ada Kembalian (Rp.)

Dibalik tidak ada kembalian

Rp. 100.000 tidak akan ada tanpa Rp. 1000, karena Rp. 100.000 merupakan kumpulan dari uang Rp. 1000an rupiah. Saya sulit menjelaskannya, tapi yang pasti uang 500an, atau 1000an itu sangat berarti, walaupun tidak banyak, dan dengan uang segitu kita cuman bisa beli permen dan gorengan.

Dibalik tidak ada kembalian ketika berbelanja.
Kadang, penjual mengatakan, “maaf tidak ada kembalian”. Saya tidak tahu apa yang membuat si penjual malas menukarkan uangnya ke toko sebelah. Apakah sengaja “memancing” kita agar membeli gorengannya dengan kembalian itu? atau memang “beneran” tidak ada kembalian karena si penjual baru membuka tokonya.

Saya biasanya jika dihadapkan dengan situasi ini, jadi tidak mau berbelanja lagi di sana. Saran Saya, jika Anda ingin membuka usaha dagang, jangan malas untuk mencarikan pembeli kembalian uang belanjanya, meskipun hanya Rp. 500 perak, karena uang segitu juga sangat berarti bagi pembeli.

Nasib Pengajar

Padepokan Budi Rahardjo

Akhir-akhir ini ada banyak “serangan” kepada pengajar (guru dan dosen). Maksudnya serangan di sini adalah kritikan dan juga tuduhan-tuduhan. Kira-kira isinya bernada “pengajar tidak mengajar dengan baik dan hanya memikirkan uang”. Maka timbullah pro dan kontra.

Di satu sisi, saya yang merasa sebagai pengajar yang baik (hi hi hi, betulkah?) merasa trenyuh. Begitu ya padangan orang? Semestinya mereka tahu bahwa pengajar itu susah banget kerjanya. Kami-kami ini memiliki komitmen yang tinggi. Gaji tidak seberapa tetapi upaya tinggi. Kebanyakan dari kami menjadi pengajar bukan karena uangnya. (Mungkin jadi pengemudi Go-Jek pendapatannya lebih banyak? he he he.) Saya mengajar karena senang mengajar.

Ada banyak orang yang menjadi pembicara di sana sini dan kemudian beranggapan bahwa mengajar itu mudah. [Harus diletakkan meme dari seorang internet marketer yang merendahkan guru itu. ha ha ha.] Wah, kalau hanya jadi presenter yang notabene hanya mengajari sekali di tempat yang sama sih mudah. Begitu harus mengajar di…

Lihat pos aslinya 145 kata lagi