Boleh Sesekali Amal Kita Ditampakkan

Menampakkan semua amal kita dengan niat ingin dilihat orang pasti jatuhnya adalah riya. Sifat riya ini dapat menghilangkan pahala amal kita, beramal sudah lama bahkan capek, ujungnya kita tidak mendapatkan apa-apa. Luruskan niat kita dalam beribadah, semoga dinilai baik oleh Allah Swt.

Ada yang menarik ketika mendengar kajian ma’rifatullah di masjid Daarut Dauhiit. Aa Gym menyampaikan:

“Boleh sesekali amal kita ditamppakkan, mudah-mudahan jadi dakwah. Tapi ingat, kita harus punya banyak amal yang orang lain tidak tahu, rahasia…”.

Kita beramal jika dilihat orang selama niat kita lurus, InsyaAllah semoga menjadi dakwah. Di depan boleh sesekali amal kita dilihat orang, tapi di belakang harus banyak amal kita yang tidak diketahui orang lain.

Wallahu A’lam Bishawab…

Iklan

Seorang Profesor

Dalam sebuah kajian di Bandung, ada seorang jamaah profesor yang mendengarkan ceramah, profesor bule, namun sudah bisa berbahasa Indonesia. Beliau duduk di bagian depan.

Dalam sebuah kesempatan, penceramah mempersilahkan seorang profesor itu maju ke depan. Singkat cerita, penceramah memperkenalkan profesor itu (karena sebelumnya sudah saling mengenal) sambil bercanda pada semua jamaah yang hadir, “ini profesor beneran lo…”. Secara langsung profesor itu merespon dengan ucapan “iya benar, tapi walaupun saya seorang profesor, saya tidak bisa mengganti oli motor sendiri”.

Sontak saya langsung merunduk dan menghayati perkataan profesor itu. Betapa sedikit sekali ilmu yang diberikan Allah kepada kita semua. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong, aamiin…

 

Miliki Jam Tangan

Saran dari Aa Gym: “Miliki jam tangan”.

Pada sebuah kajian Aa bertanya kepada salah seorang santri, jam berapa sekarang?. Santri itu melihat ke arah jam dinding masjid sebelah kanan, dan mengatakan jam 5.30. Butuh waktu 5 detik untuk melihat jam ke arah dinding.

Aa menyarankan semua santri untuk memiliki jam tangan, untuk mengefektifkan waktu, walaupun hanya beberapa detik. Mungkin kesimpulan yang bisa saya ambil adalah, selamatkan satu detikmu, karena Ia penting. Waktu tidak akan pernah terhenti, terus berjalan seiring umur kita yang semakin berkurang.

Manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu. Semoga kita tergolong menjadi orang yang bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tidak ada kesia-siaan di dalamnya, Aamiin.

40 Rakaat

Kajian yang sungguh luar biasa, Alhamdulillah. Beliau dalam kajiannya kurang lebih mengatakan: sekurang-kurangnya ayo kita usahakan shalat 40 rakaat setiap hari.

40 rakaat?

Yaps! 40 rakaat.

17 rakaat shalat wajib, 11 rakaat qiyamul lail, 2 rakaat dhuha, dan 10 rakaat rawatib. Jadi, total (17+11+2+10) ada 40 rakaat.

Untuk shalat sunnah rawatib dengan rincian 2 rakaat sebelum subuh, 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib, dan 2 rakaat setelah isya. Ini merupakan shalat sunnah rawatib muakad.

Begitulah sahabat-sahabatku sekalian. Tentu tidak harus 40 rakaat, misalkan shalat dhuha ditambah rakaatnya, atau bisa ditambah dengan shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunnah lainnya. 40 rakaat sebagai pengingat kita saja, karena memang mudah diingat, 40.

Sebelum Anda Mengupload Foto

Tidak tahan ingin mengupload foto secepatnya di media sosial/jejaring sosial, begitu yang kita sebagian besar rasakan. Foto ketika pergi ke kota besar, foto di hotel, restoran, foto sedang memegang piala, foto keahlian di bidang tertentu, foto perjalanan di gunung atau pantai, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Hal ini sebagai pemicu mengundang iri hati orang lain, sehingga berdampak buruk bagi kita sendiri.

Berikut adalah sebagian saya tulis dari apa yang dikatakan Mufti Menk:

“Berhati-hatilah, ada hal yang disebut iri hati, yang dapat menjangkiti bahkan orang yang terbaik di antara kalian, jadi berhati-hatilah tentang apa yang akan kau beritahukan pada mereka, jangan ceritakan hal ini kepada saudara-saudaramu.”

“Kau mengundang orang untuk mendengki kepadamu. Sesungguhnya iri hati akan memakan amal baikmu sebagaimana api akan memakan kayu kering.”

“Jadi, saudara-saudari, pikirkan sejenak sebelum kau mengupload fotomu, dan sebelum kau mengupload makananmu, dan yang lainnya, aku tidak mengatakan bahwa kau harus sepenuhnya menarik diri dari teknologi, tapi apa yang ingin aku sampaikan adalah: pergunakanlah sebaik mungkin, gunakanlah sebaik mungkin, tapi jangan gunakan untuk menghancurkan dirimu sendiri.”

“Kau terkadang boleh memberitahu orang lain tentang kebaikan yang kau rasakan, tapi tidak harus semuanya diberitahu, karena sebenarnya kau mengirim 1, 2, 3, sampai 10 foto, sementara sebagian orang yang melihatnya telah menginginkan hal itu di sepanjang hidup mereka, berusaha menggapainya, sedangkan kau mendapatkannya dengan begitu mudah. Akan datang suatu saat dalam hidup mereka dimana perasaan mereka mulai berubah terhadapmu.”

“Secara alami, manusia ingin memiliki gambaran yang baik tentang dirinya, dia ingin mengupload gambar yang baik, setiap orang begitu. Jadi tidak ada salahnya mengupload gambar yang baik itu, tapi tidak harus mengupload sampai mendetil hal-hal yang terjadi dalam hidupmu. Hal itu cukup hanya antara kau, dan sanak famili yang men-sharenya, dan terkadang jika kau sangat menginginkannya, mungkin kau bisa men-sharenya hanya dengan segelintir kecil orang yang kau pilih.”

“Tidak setiap orang akan ikhlas, bahkan orang-orang ikhlas terkadang hal itu dapat memasuki hati mereka setelah beberapa waktu, dan hal itu bisa berpengaruh kepadamu.”